Kamis, 20 September 2018

INGAT RUMAH ORANG TUA , TIDAK MUNGKIN LUPA AKAN PENGORBANNANNYA

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat Muslim yang tidak menghormati orangtuanya, tidak memuliakannya --apalagi tidak mau merawatnya-- hidupnya akan jauh dari keberkahan. Di akhirat ia tak berhak atas surga Allah Subhanahu Wata’ala Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat Terkait SUNGGUH tidak ada kecerdasan yang lebih tinggi, amal yang sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orangtuanya dan merawatnya hingga akhir hayat. Secara gamblang Allah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa kedudukan orangtua sangat mulia. Bahkan karena begitu mulianya, Allah langsung memandu umat Islam jangan sampai salah dalam bergaul untuk memuliakan orangtua, lebih-lebih di usia mereka yang sudah lanjut. Berkata “ah” saja kepada orangtua, Allah sangat melarangnya. وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al- Isra’ [17]: 23). Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa kata qadhaa dalam ayat ini berarti perintah. Sementara itu mujahid berkata artinya adalah berwasiat. Berarti ayat ini sangat penting dan utama untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seluruh umat Islam agar benar-benar bersemangat dalam memuliakan orangtua. Apalagi, perintah ini Allah tegaskan setelah perintah untuk ikhlas beribadah dengan tidak mempersekutukan-Nya. Dengan kata lain, siapapun dari umat Islam yang tidak memuliakan orangtuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Sebaliknya, kehinaan demi kehinaan akan selalu menghampiri perjalan hidupnya di dunia maupun akhirat. Dalam banyak ayat, Allah mengingatkan agar manusia berbuat baik pada kedua orangtuanya. وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS: Luqman [31]: 14] Sebuah Hadits menyebutkan, “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad). Panti jompo? No way! Sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orangtuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya ke panti jompo, na’udzubillahi min dzalik. Padahal, dirinya tumbuh dewasa dan pintar karena pengorbanan tanpa pamrih dari orangtua. Dengan perantara orangtualah kita ini lahir di dunia, kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa, berpengetahuan, berpenghasilan bahkan menjadi orang terpandang. Istilahnya, tanpa pengorbanan orangtua, tak akan ada anak jadi dewasa. Oleh karena itu, di ayat yang lain Allah memerintahkan umat Islam untuk bersyukur kepada kedua orangtua setelah bersyukur kepada-Nya. وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14). Jadi, memuliakan orangtua dan merawatnya adalah perkara utama. Bahkan setara dengan jihad (perang) di jalan Allah Ta’ala. Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah datang kepada Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran”. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” “Ya, masih,” jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, temanilah ia, karena surga itu terletak di kedua kakinya.” (HR. Ahmad). Dengan kata lain, seorang Muslim yang tidak menghormati orangtuanya, tidak memuliakannya, apalagi tidak mau merawatnya, jelas hidupnya akan jauh dari keberkahan. Dan, di akhirat ia tidak berhak atas surga Allah Subhanahu Wata’ala. Keteladanan Uwais Al-Qarni Ada seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pakaiannya hanya dua helai yang sudah kusut. Satu untuk penutup badan, satunya untuk selendang. Ia tak dikenal banyak orang dan sangat miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya, tiada orang yang menghiraukannya. Subhanallah, dia tidak dikenal oleh penduduk bumi, tetapi sangat terkenal penduduk langit. Jika berdoa pasti dikabulkan. Dikisahkan sepulang dari perang, Rasulullah menanyakan kepada Aisyah ra berkenaan dengan orang yang datang mencarinya. Rasulullah menjelaskan bahwa dia adalah penghuni langit. Mendengar perkataan baginda Rasul, Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Aisyah ra berkata, memang benar ada seorang pria yang datang mencari baginda Nabi, namun ia segera pulang kembali ke Yaman, dikarenakan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkannya terlalu lama. Rasulullah bersabda, “Jika kalian ingin bertemu dengan dia, perhatikanlah, ia memiliki tanda putih ditengah-tengah telapak tangannya. Dan suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.” Bahkan pada hari kiamat kelak ketika semua ahli ibadah dipanggil untuk memasuki surga, dia justru dipanggil agar berhenti terlebih dahulu dan diperintahkan memberi syafa’at, ternyata Allah memberikan dia izin untuk memberi syafa’at. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Seorang pemuda sholeh yang sangat mencintai Rasulnya serta taat dan berbakti kepada ibunya, sehingga Allah memberikan beberapa keistimewaan atas dirinya. Jika ada manusia yang tidak pernah bertemu Rasulullah shallahu alayhi wasallam, namun beliau yang mulia mewasiatkan kepada sahabatnya, tepatnya kepada Umar bin Khaththab dan Ali radhiyallahu anhuma untuk mencari dan meminta doanya, orang tersebut adalah Uwais Al-Qarni. Uwais bin Amir Al-Qarni berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil. Dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah, tak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orangtuanya yang sangat ditaatinya dan dimuliakan. Karena akhlaknya memuliakan orangtua itulah ia menjadi terkenal penduduk langit. Dan gara-gara itulah Amirul Mukminin Umar ibnu Khatab dan Ali bin Abi Thalib berjalan untuk mencarinya dan menemuinya hanya untuk minta nasehat dan doa. Karena jika dia berdoa pasti dikabulkan. Subhanallah. Kisah Uwais ini menunjukkan bahwa memuliakan orangtua adalah perkara mulia yang sangat dicintai Allah subhanahu wata’ala. Tunggu apalagi, mari kita muliakan kedua orangtua kita, niscaya surga akan berhias menanti dan menyambut kehadiran kita semua, amin.*/Imam Nawawi

PESONA RIAM PANGAR SANGGAU LEDO BENGKAYANG KALBAR

Kali ini saya megajak anda mengenal Riam Pangar dan sekaligus menambah referensi liburan akhir Tahun Anda dengan keluarga dan bahkan dengan teman-teman anda. Riam Pangar terletak di Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Riam Pangar lebih tepatnya terletak diatas Riam Berasap yang juga sangat terkenal. Gerbang Masuk : Untuk ke riam pangar diperlukan waktu berkisar satu jam bahkan lebih, dari pusat kota Bengkayang. Dan untuk masuk keriam Pangar sendiri dari pasar Sanggau Ledo berkisar antara 20 menit dengan kendaraan, di riam Pangar untuk biaya masuknya di kenakan tarif Rp 5.000,- / Orang serta untuk biaya parkir mobil Rp 10.000,- Fasilitas Riam Pangar yaitu : Toilet / WC Tempat Ganti Pakaian Kantin Arung Jeram / rafting Nah bagi teman-teman yang tertarik silahkan berkunjung ke riam pangar, dan bagikan pengalaman anda kepada teman-teman, keluarga yang lainnya yang mungkin belum pernah ke riam pangar, Sekian Terimakasih sungguh asyik melihat potensi alam yang berdekatan dengan tetangga jiran malasia ini,...bila perlu satu jam ,,sudah nyampai diperbatasan Jagoi Babang..Ujung Indonesia.

KELUARGA BLANGKON

Blangkon iku sajinis panutup sirah kanggo wong priyo sing sejatiné wujud modhèrn lan praktis soko iket. Iket digawe soko kain batik sing rodho dowo banjur dililitake miturut cara-cara lilitan tinentu neng sirah. Lilitan kain iku kudhu isa nutup kabeh sirah (ndhuwur kuping). Ya, blankon adalah salah satu bagian dari pakaian adat khas Jawa yang digunakan untuk penutup kepala bagi pria sebagai pelindung dari sengatan matahari atau udara dingin. Awalnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar, berukuran kurang lebih 105 cm x 105 cm. Kain yang kemudian dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan di kepala dengan cara dan aturan tertentu. Mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memakan waktu, maka timbullah gagasan seiring dengan kemajuan pemikiran orang dan seni untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis, yang kemudian kita kenal dengan nama blangkon. Tidak ada catatan sejarah yang pasti akan asal muasal orang Jawa memakai iket sebagai penutup kepala. Iket telah tersebut dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu dimana Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa. Selain itu, ada cerita-cerita bahwa iket adalah pengaruh budaya Hindu dan Islam. Para pedagang dari Gujarat yang keturunan Arab selalu mengenakan sorban, kain panjang yang dililitkan di kepala, yang kemudian menginspirasi orang Jawa memakai ikat kepala seperti mereka. Cerita lain mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit didapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu blangkon.